LUXURIOUS

Selamat Datang...

Mari Kita saling berbagi, berpendapat, belajar, serta berdiskusi ria dengan Luxurious.

Are You Ready ???

Jumat, 18 Maret 2011

ASPEK SOSIAL DALAM ”AFRIKA YANG RESAH (NYANYIAN LAWINO DAN NYANYIAN OCOL)” KARYA OKOT P’BITEK

Sastra yang baik selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan mayarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan kodisi yang berlaku dalam masyrakatnya.
Bangsa-bangsa yang sedang berkembang di dunia sedikit banyak berada dalam situasi yang sama, dan menghadapi tantangan yang juga diantaranya ada yang sama. Sebagian besar dari mereka adalah negara bekas jajahan kekuasaan asing. Masyarakat mereka juga berada di taraf transisi, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dengan segala masalah dan keperihannya. Di negeri yang seperti ini telah banyak nilai tradisional yang mengalami perubahan. Pembangunan ekonomi dan sosial sendiri telah mendorong berbagai perubahan di banyak bidang penghidupan dan nilai-nilai perorangan dan masyarakat.
            Di antara puluhan pengarang modern Afrika Hitam yang semakin dikenal luas, ada beberapa yang dengan sungguh-sungguh menciptakan citraan, kiasan, dan perlambangan yang berdasarkan tradisi Afrika. Salah seorang di antara yang hanya beberapa itu adalah Okot P’Bitek, penyair Uganda. Karya Okot bahkan telah memaksa para pengamat Barat untuk tidak membandingkannya dengan sastra Barat, tetapi dengan sastra lisan Acoli, salah satu kelompok etnis yang menghuni negeri itu. Karya Okot P’Bitek yang paling sering dibicarakan adalah ”Nyanyian Lawino”, yang kemudian ternyata tidak bisa dipisahkan dari karya lain yang mengikutinya, ”Nyanyian Ocol”. Dalah karya ini Okot P’Bitek berperan sebagai seorang penyair.
Okot p’Bitek dilahirkan di Gulu, Uganda bagian utara pada tahun 1931. Setelah menamatkan sekolah dasar dan menengah di Huda, ia kemudian memasuki sekolah Guru Negeri di Mbarara. Selepas dari sekolah itu, ia mengajarkan agama dan Bahasa Inggris di sebuah sekolah dekat Kota kelahiranya. Pada waktu itu orang tua Okot merupakan tokoh masyarakat dikalangan Protestan setempat. Pada masa Sekolah Guru, Okot menulis novel pertamanya yang berbahasa Acoli terbit, mengisahkan seorang pemuda yatim yang mengalami berbagai cobaan gara-gara berusaha mengumpulkan kekayaan untuk memenuhi mas kawin untuk calon istrinya. Waktu itu pula minat Okot pada musik dan politik tumbuh.
  
  Analisis Afrika Yang Resah ( Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek
            Dalam karya ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, tokoh Lawino adalah seorang wanita dusun yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah berubah menjadi seolah penduduk Barat dan menista bangsanya sendiri. Tokoh Lawino ini jelas bukan sekedar seorang wanita yang bodoh, ia adalah alat penyair untuk berkomentar terhadap tindak-tanduk penduduk di Uganda pada khususnya dan Afrika pada umumnya. Tokoh Ocol, suami Lawino, kawin lagi dengan wanita modern. Lelaki itu pembela agama Kristen yang gigih, ia  seorang politikus, seorang intelektual yang menginginkan modernisasi. Namun ia telah meninggalkan istrinya demi wanita lain. Lawino boleh dikatakan menyuarakan Afrika yang dusun, primitif, sederhana, ”hitam”, dan asli. Sudut pandang Lawino adalah Afrika. Ia memandang suami dan madunya sebagai korban pengaruh Barat. Ia marah karena merasa dilecehkan. Terlebih ia sangat marah terhadap Clementine, perempuan yang menggantikan kedudukannya sebagai istri Ocol. Akan tetapi bila di depan Ocol, Lawino tidak pernah menunjukkan sikap marahnya terhadap Clementine. Bahkan dia mengatakan tidak takut bersaing dengan madunya itu.
            Dengan membandingkan tarian Barat dengan tarian-tarian tradisional sukunya, Lawino mengungkapkan ketidakpahamannya mengapa orang Afrika bisa menyukai tarian Barat dan mengapa orang Afrika bisa mengambil kebudayaan Barat sebagai miliknya. Selanjutnya wanita desa itu dengan gigih membela adat-istiadat nenek moyangnya yang selama ini dianggap primitif oleh suaminya.
Dalam pembelaannya itu, Lawino senantiasa membandingkannya dengan kebudayaan Barat yang tak dipahaminya.Wanita dusun Afrika yang terbiasa dengan alam terbuka, gerak yang lepas, dan emosi yang tidak pernah ditekan itu tentu saja sulit menerima hampir semua unsur kebudayaan Barat yang sama sekali berbeda dari tradisi yang selama ini dihayatinya. Ia tidak bisa memahami mengapa orang bule tidak mempunyai rasa malu dan jijik kalau menari dalam kamar yang sumpek penuh asap tembakau dan bau minuman keras, berpelukan erat dengan orang yang bukan suami atau istrinya di hadapan orang banyak, bergerak-gerak perlahan dalam suasana lampu yang remang-remang.
            Dalam bagian akhir sajak Afrika Yang Resah ini, Lawino berusaha untuk mengingatkan suaminya tentang keagungan tradisi bangsanya sendiri. Ia menginginkan lelaki itu kembali kepadanya, kepada rakyat dan adat-istiadatnya yang kaya. Dalam usahanya memanggil pulang suaminya yang ”tersesat” itu untuk kembali, Lawino dengan jelas menggambarkan berbagai segi adat-istiadat nenek-moyangnya yang perlu dihidupkan kembali.
            Dengan pandangan yang dimiliki oleh Lawino, Ocol kemudian mencerca Lawino dan mengusirnya. Dia menginginkan kehidupan yang sama sekali baru, yang didasarkan pada konsep-konsep kemasyarakatan Barat. Ia pun menghendaki dikuburkannya adat kuno dan tahayul yang masih ada dalam masyarakat. Bahkan ia memproklamirkan Afrika yang berbahasa Prancis dan Inggris.
            Dengan memahami isi yang terkandung dalam sajak ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, maka Aspek yang terdapat dalam pembahasan dalam karya tersebut, terutama Aspek Sosialnya.
Aspek sosial yang dimaksud adalah peristiwa yang menceritakan bahwa tokoh Lawino sangat menyesal dengan tindakan suaminya yang meninggalkan kebudayaan aslinya menuju, tetapi malah hidup dengan mengagungkan budaya Barat. Lawino juga termasuk istri yang tabah, saat Ocol meninggalkannya untuk menikah dengan Clementine. Meskipun marah, Lawino tetap tidak menunjukkan rasa marah terhadap Ocol. Dia merasa optimis untuk membawa suaminya kembali hidup dengan mengagungkan kebudayaan asli yang mereka miliki.
Walaupun pada akhirnya Lawino diusir oleh suaminya, namun usaha Lawino untuk membuat suaminya kembali dalam kehidupan yang semestinya patut diacungi jempol. Paling tidak, Lawino telah menjalani peran ganda. Pertama yaitu ingin meraih kembali suaminya yang telah direbut oleh perempuan lain, yang kedua yaitu semangatnya untuk menghidupkan kembali kebudayaan asli negaranya.
Pada analisis Afrika Yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek ini, penyair berusaha mengungkapkan persoalan-persoalan penting dalam negara berkembang yang baru saja lepas dari kekuasaan penjajahan Barat. Penyair berusaha mengajak para pembaca semua untuk melihat rangkaian persoalan yang kompleks dari berbagai sudut pandang yang baru; penyair menyadarkan kita bahwa setidaknya harus merenungkan kembali pilihan-pilihan yang telah kita jatuhkan selama ini. Berbagai masalah yang digambarkan dalam kedua sajaknya ini terasa tidak begitu asing bagi kita. Mungkin kita merasa bahwa masalah itu masih tetap masalah bagi kita sekarang.
            Dengan demikian, dunia rekaan yang diciptakan penyair Uganda ini memiliki nilai tambah bagi pembaca khususnya. Di samping menyodorkan pengalaman baru untuk kita hayati, penyair  juga mengingatkan kita akan berbagai masalah yang dapat melanda di suatu negara, khususnya negara yang sedang berkembang saat ini.

1 komentar: