Sastra yang baik selalu
merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan
juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi sastrawan yang
baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan mayarakatnya.
Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan
kodisi yang berlaku dalam masyrakatnya.
Bangsa-bangsa yang sedang
berkembang di dunia sedikit banyak berada dalam situasi yang sama, dan
menghadapi tantangan yang juga diantaranya ada yang sama. Sebagian besar dari
mereka adalah negara bekas jajahan kekuasaan asing. Masyarakat mereka juga
berada di taraf transisi, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional ke
masyarakat modern dengan segala masalah dan keperihannya. Di negeri yang
seperti ini telah banyak nilai tradisional yang mengalami perubahan.
Pembangunan ekonomi dan sosial sendiri telah mendorong berbagai perubahan di
banyak bidang penghidupan dan nilai-nilai perorangan dan masyarakat.
Di antara puluhan pengarang modern Afrika Hitam yang semakin dikenal luas, ada
beberapa yang dengan sungguh-sungguh menciptakan citraan, kiasan, dan
perlambangan yang berdasarkan tradisi Afrika. Salah seorang di antara yang
hanya beberapa itu adalah Okot P’Bitek, penyair Uganda. Karya Okot bahkan telah
memaksa para pengamat Barat untuk tidak membandingkannya dengan sastra Barat,
tetapi dengan sastra lisan Acoli, salah satu kelompok etnis yang menghuni
negeri itu. Karya Okot P’Bitek yang paling sering dibicarakan adalah ”Nyanyian
Lawino”, yang kemudian ternyata tidak bisa dipisahkan dari karya lain yang
mengikutinya, ”Nyanyian Ocol”. Dalah karya ini Okot P’Bitek berperan sebagai
seorang penyair.
Okot p’Bitek dilahirkan di
Gulu, Uganda bagian utara pada tahun 1931. Setelah menamatkan sekolah dasar dan
menengah di Huda, ia kemudian memasuki sekolah Guru Negeri di Mbarara. Selepas
dari sekolah itu, ia mengajarkan agama dan Bahasa Inggris di sebuah sekolah
dekat Kota kelahiranya. Pada waktu itu orang tua Okot merupakan tokoh
masyarakat dikalangan Protestan setempat. Pada masa Sekolah Guru, Okot menulis
novel pertamanya yang berbahasa Acoli terbit, mengisahkan seorang pemuda yatim
yang mengalami berbagai cobaan gara-gara berusaha mengumpulkan kekayaan untuk
memenuhi mas kawin untuk calon istrinya. Waktu itu pula minat Okot pada musik
dan politik tumbuh.
Analisis Afrika Yang Resah ( Nyanyian
Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek
Dalam karya ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, tokoh
Lawino adalah seorang wanita dusun yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa
suaminya telah berubah menjadi seolah penduduk Barat dan menista bangsanya
sendiri. Tokoh Lawino ini jelas bukan sekedar seorang wanita yang bodoh, ia
adalah alat penyair untuk berkomentar terhadap tindak-tanduk penduduk di Uganda
pada khususnya dan Afrika pada umumnya. Tokoh Ocol, suami Lawino, kawin lagi
dengan wanita modern. Lelaki itu pembela agama Kristen yang gigih, ia
seorang politikus, seorang intelektual yang menginginkan modernisasi.
Namun ia telah meninggalkan istrinya demi wanita lain. Lawino boleh dikatakan
menyuarakan Afrika yang dusun, primitif, sederhana, ”hitam”, dan asli. Sudut
pandang Lawino adalah Afrika. Ia memandang suami dan madunya sebagai korban
pengaruh Barat. Ia marah karena merasa dilecehkan. Terlebih ia sangat marah
terhadap Clementine, perempuan yang menggantikan kedudukannya sebagai istri
Ocol. Akan tetapi bila di depan Ocol, Lawino tidak pernah menunjukkan sikap
marahnya terhadap Clementine. Bahkan dia mengatakan tidak takut bersaing dengan
madunya itu.
Dengan membandingkan tarian Barat dengan tarian-tarian tradisional sukunya,
Lawino mengungkapkan ketidakpahamannya mengapa orang Afrika bisa menyukai
tarian Barat dan mengapa orang Afrika bisa mengambil kebudayaan Barat sebagai
miliknya. Selanjutnya wanita desa itu dengan gigih membela adat-istiadat nenek
moyangnya yang selama ini dianggap primitif oleh suaminya.
Dalam pembelaannya itu, Lawino senantiasa
membandingkannya dengan kebudayaan Barat yang tak dipahaminya.Wanita dusun
Afrika yang terbiasa dengan alam terbuka, gerak yang lepas, dan emosi yang
tidak pernah ditekan itu tentu saja sulit menerima hampir semua unsur
kebudayaan Barat yang sama sekali berbeda dari tradisi yang selama ini
dihayatinya. Ia tidak bisa memahami mengapa orang bule tidak mempunyai rasa
malu dan jijik kalau menari dalam kamar yang sumpek penuh asap tembakau dan bau
minuman keras, berpelukan erat dengan orang yang bukan suami atau istrinya di
hadapan orang banyak, bergerak-gerak perlahan dalam suasana lampu yang remang-remang.
Dalam bagian akhir sajak Afrika Yang Resah ini, Lawino berusaha untuk
mengingatkan suaminya tentang keagungan tradisi bangsanya sendiri. Ia
menginginkan lelaki itu kembali kepadanya, kepada rakyat dan adat-istiadatnya
yang kaya. Dalam usahanya memanggil pulang suaminya yang ”tersesat” itu untuk
kembali, Lawino dengan jelas menggambarkan berbagai segi adat-istiadat
nenek-moyangnya yang perlu dihidupkan kembali.
Dengan pandangan yang dimiliki oleh Lawino, Ocol kemudian mencerca Lawino dan
mengusirnya. Dia menginginkan kehidupan yang sama sekali baru, yang didasarkan
pada konsep-konsep kemasyarakatan Barat. Ia pun menghendaki dikuburkannya adat
kuno dan tahayul yang masih ada dalam masyarakat. Bahkan ia memproklamirkan
Afrika yang berbahasa Prancis dan Inggris.
Dengan memahami isi yang terkandung dalam sajak ”Afrika yang Resah (Nyanyian
Lawino dan Nyanyian Ocol)”, maka Aspek yang terdapat dalam pembahasan dalam
karya tersebut, terutama Aspek Sosialnya.
Aspek sosial yang dimaksud adalah peristiwa yang
menceritakan bahwa tokoh Lawino sangat menyesal dengan tindakan suaminya yang
meninggalkan kebudayaan aslinya menuju, tetapi malah hidup dengan mengagungkan
budaya Barat. Lawino juga termasuk istri yang tabah, saat Ocol meninggalkannya
untuk menikah dengan Clementine. Meskipun marah, Lawino tetap tidak menunjukkan
rasa marah terhadap Ocol. Dia merasa optimis untuk membawa suaminya kembali
hidup dengan mengagungkan kebudayaan asli yang mereka miliki.
Walaupun pada akhirnya Lawino
diusir oleh suaminya, namun usaha Lawino untuk membuat suaminya kembali dalam
kehidupan yang semestinya patut diacungi jempol. Paling tidak, Lawino telah
menjalani peran ganda. Pertama yaitu ingin meraih kembali suaminya yang telah
direbut oleh perempuan lain, yang kedua yaitu semangatnya untuk menghidupkan
kembali kebudayaan asli negaranya.
Pada analisis Afrika Yang
Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek ini, penyair
berusaha mengungkapkan persoalan-persoalan penting dalam negara berkembang yang
baru saja lepas dari kekuasaan penjajahan Barat. Penyair berusaha mengajak para
pembaca semua untuk melihat rangkaian persoalan yang kompleks dari berbagai
sudut pandang yang baru; penyair menyadarkan kita bahwa setidaknya harus merenungkan
kembali pilihan-pilihan yang telah kita jatuhkan selama ini. Berbagai masalah
yang digambarkan dalam kedua sajaknya ini terasa tidak begitu asing bagi kita. Mungkin kita merasa bahwa masalah itu
masih tetap masalah bagi kita sekarang.
Dengan demikian, dunia rekaan yang diciptakan penyair Uganda ini memiliki nilai
tambah bagi pembaca khususnya. Di samping menyodorkan pengalaman baru untuk
kita hayati, penyair juga mengingatkan kita akan berbagai masalah yang
dapat melanda di suatu negara, khususnya negara yang sedang berkembang saat
ini.