LUXURIOUS

Selamat Datang...

Mari Kita saling berbagi, berpendapat, belajar, serta berdiskusi ria dengan Luxurious.

Are You Ready ???

Rabu, 06 April 2011

emosi sesaat

Jepara, 7 April 2011
Saat ku buka mata ini,, ku tahu apa yang bakal terjadi saat ku buka mataku. Sebuah perjalanan berat akan ada di depanku saat ini juga, ingin rasanya aq pergi tidur lagi dan memejamkan mataku terus tanpa harus mengintip walaupun itu sedikit saja. Rasa ego yang selama ini aq pendam terus saat ini hampir saja aq muntahkan... ahh,,,aq dah bosan, muak dengan kejadian ini!!! Hati dan perasaanku tak sejalan lagi. Aq ingin hidup normal tanpa ada sebuah klamufase tiap hari. Apalah arti dari sebuah tangisan???? saat ini tangisan tidaklah memperbaiki sebuah keadaan. Malah akan menjadi sebuah beban yang akan selalu aku pikul terus dalam perjalanan hidupku. Aku ingin lepas dari semua permasalahan ini. Aku benci semuanya... Muak dengan semuanya!!! ini hanyalah luapan emosi sesaatku..

Jumat, 18 Maret 2011

Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi

Perempuan muda itu bernama Firdaus, dia merupakan salah satu  penghuni penjara di Mesir. Ia di penjara karena membunuh seorang pria yang mau menjadikannya seorang budaknya. Lelaki itu merupakan seorang penampung pekerja seks yang terkenal di Mesir. Firdaus mengelak, tetapi lelaki itu tetap mengancamnya. Ketika pihak penjara memberikan penawaran untuk mengajukan igrasi. Firdaus tetap menolak. Dia tetap memilih untuk di hokum mati atas perbuatannya, meskipun ia benar – benar merasa bahwa dirinya tidak bersalah. Firdaus tetap menolak dan tetap menjalani hukuman tersebut dengan kepasrahan karena ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Sejak kecil Firdaus sudah mengalami pelecehan seksual mulai dari temannya, pamannya, bahkan ayahnya sendiri dan orang – orang yang disekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan asal mula penderitaan Firdaus seumur hidupnya.
            Perjalanan hidup Firdaus  yang dialaminya dari hari ke hari menjadikan dia menjadi seorang wanita yang tegar, kuat dan mandiri. Perjalanan hidup Firdaus yang menjadi seorang pelacur yang sangat sukses dan mendapatkan bayaran yang sangat tinggi. Dari situlah dia bisa mendapatkan materi yang di inginkan hanya dengan mengerlingakan matanya pada setiap lelaki yang ia temui. Namun demikian, hatinya tidak pernah merasa damai dan bahagia. Firdaus selalu merasa ada perasaan perih di hatinya.
            Salah satu pelanggannya pernah berkata pedas pada firdaus, hal itu malah membuat sadar hati firdaus. Meskipun Firdaus membunuh untuk melindungi dirinya  sendiri, dan ia sadar bahwa ia harus menerima semua hukuman walaupun itu sebuah hukuman mati.
            Dalam novel ini, Firdaus benar – benar benci kepada semua lelaki karena ia selalu mendapatkan penderitaan darinya. Bahkan dari orang terdekatnnya juga seperti ayahnya, pamannya sendiri.

 Kajian Berdasarkan Aspek Feminisme
            Feminisme merupakan sebuah hasrat dari feminis untuk mengaji karya sastra penulis wanita di masa lampau dan menunjukkan citra wanita dalam karya – karya penulis pria, yang menampilkan wanita sebagai  makhluk yang di tekan, di salah tafsirkan dan di sepelekan. Adapun tujuan dari kajian feminisme ini yaitu : di jadikannya sebagai wahana atau alat baru dalam mengakji dan mendekati suatu teks dengan cara mengakui adanya penulis – penulis wanita yang berpontensioanal. Selain itu juga membantu kita ( pembaca ) untuk memahami, menafsirkan serta menilai cerita penulis wanita.
           Novel “ Perempuan di Titik Nol “ memiliki berbagai aspek feminisme dari sudut pembelaan dan segi pemberontakan seorang wanita atas hak – hak pribadinya. Dalam hal ini Firdaus menjadi tokoh sentralnya. Dia memperjuangkan nasibnya agar dapat berdiri sejajar sama rata dengan kaum laki – laki atau bahkan di atas mereka. Sering kali wanita lemah yang selalu dijadikan budak, bahkan bualan dan alat pemuas seks yang ternyata dapat berlaku kejam terhadap laki – laki. Hal ini di karenakan ia terdorong oleh berbagai penderitaan yang di alaminya dan atas kekecewaan yang selama ini terus menderita hatinya, yang pada puncaknya timbullah rasa ingin balas dendam atas semua kejahatan yang ditimpakannya.
            Dalam aspek feminisme latar belakang agama juga menjadikan tokoh sentral adalah wanita. Di dalam novel ini menceritakan Firdaus seorang wanita yang merupakan makhluk kotor, atau penjelmaan dari iblis. Tokoh utama berusaha memperjuangkan kedudukannya, namun terkadang jalan yang di tempuhnya menjadikannya sakit atas beban mental yang dibawanya. Dengan menjadi seorang pelacur , Firdaus dapat mendapatkan apapun yang di inginkannya dari para lelaki yang telah membayarnya.
            Peristiwa pembunuhan yang di lakukukan Firdaus menyebabkannya masuk dalam tahanan penjara, ia di tahan sebagai hukuman balasan atas tindakan criminal yang dilakukannya. Tetapi di balik semua itu Firdaus tetap kuat dan mempunyai keteguhan hati dan tidak menyurutkan keberaniannya dalam memegang prinsip hidupnya.

ASPEK SOSIAL DALAM ”AFRIKA YANG RESAH (NYANYIAN LAWINO DAN NYANYIAN OCOL)” KARYA OKOT P’BITEK

Sastra yang baik selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan mayarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan kodisi yang berlaku dalam masyrakatnya.
Bangsa-bangsa yang sedang berkembang di dunia sedikit banyak berada dalam situasi yang sama, dan menghadapi tantangan yang juga diantaranya ada yang sama. Sebagian besar dari mereka adalah negara bekas jajahan kekuasaan asing. Masyarakat mereka juga berada di taraf transisi, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dengan segala masalah dan keperihannya. Di negeri yang seperti ini telah banyak nilai tradisional yang mengalami perubahan. Pembangunan ekonomi dan sosial sendiri telah mendorong berbagai perubahan di banyak bidang penghidupan dan nilai-nilai perorangan dan masyarakat.
            Di antara puluhan pengarang modern Afrika Hitam yang semakin dikenal luas, ada beberapa yang dengan sungguh-sungguh menciptakan citraan, kiasan, dan perlambangan yang berdasarkan tradisi Afrika. Salah seorang di antara yang hanya beberapa itu adalah Okot P’Bitek, penyair Uganda. Karya Okot bahkan telah memaksa para pengamat Barat untuk tidak membandingkannya dengan sastra Barat, tetapi dengan sastra lisan Acoli, salah satu kelompok etnis yang menghuni negeri itu. Karya Okot P’Bitek yang paling sering dibicarakan adalah ”Nyanyian Lawino”, yang kemudian ternyata tidak bisa dipisahkan dari karya lain yang mengikutinya, ”Nyanyian Ocol”. Dalah karya ini Okot P’Bitek berperan sebagai seorang penyair.
Okot p’Bitek dilahirkan di Gulu, Uganda bagian utara pada tahun 1931. Setelah menamatkan sekolah dasar dan menengah di Huda, ia kemudian memasuki sekolah Guru Negeri di Mbarara. Selepas dari sekolah itu, ia mengajarkan agama dan Bahasa Inggris di sebuah sekolah dekat Kota kelahiranya. Pada waktu itu orang tua Okot merupakan tokoh masyarakat dikalangan Protestan setempat. Pada masa Sekolah Guru, Okot menulis novel pertamanya yang berbahasa Acoli terbit, mengisahkan seorang pemuda yatim yang mengalami berbagai cobaan gara-gara berusaha mengumpulkan kekayaan untuk memenuhi mas kawin untuk calon istrinya. Waktu itu pula minat Okot pada musik dan politik tumbuh.
  
  Analisis Afrika Yang Resah ( Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek
            Dalam karya ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, tokoh Lawino adalah seorang wanita dusun yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah berubah menjadi seolah penduduk Barat dan menista bangsanya sendiri. Tokoh Lawino ini jelas bukan sekedar seorang wanita yang bodoh, ia adalah alat penyair untuk berkomentar terhadap tindak-tanduk penduduk di Uganda pada khususnya dan Afrika pada umumnya. Tokoh Ocol, suami Lawino, kawin lagi dengan wanita modern. Lelaki itu pembela agama Kristen yang gigih, ia  seorang politikus, seorang intelektual yang menginginkan modernisasi. Namun ia telah meninggalkan istrinya demi wanita lain. Lawino boleh dikatakan menyuarakan Afrika yang dusun, primitif, sederhana, ”hitam”, dan asli. Sudut pandang Lawino adalah Afrika. Ia memandang suami dan madunya sebagai korban pengaruh Barat. Ia marah karena merasa dilecehkan. Terlebih ia sangat marah terhadap Clementine, perempuan yang menggantikan kedudukannya sebagai istri Ocol. Akan tetapi bila di depan Ocol, Lawino tidak pernah menunjukkan sikap marahnya terhadap Clementine. Bahkan dia mengatakan tidak takut bersaing dengan madunya itu.
            Dengan membandingkan tarian Barat dengan tarian-tarian tradisional sukunya, Lawino mengungkapkan ketidakpahamannya mengapa orang Afrika bisa menyukai tarian Barat dan mengapa orang Afrika bisa mengambil kebudayaan Barat sebagai miliknya. Selanjutnya wanita desa itu dengan gigih membela adat-istiadat nenek moyangnya yang selama ini dianggap primitif oleh suaminya.
Dalam pembelaannya itu, Lawino senantiasa membandingkannya dengan kebudayaan Barat yang tak dipahaminya.Wanita dusun Afrika yang terbiasa dengan alam terbuka, gerak yang lepas, dan emosi yang tidak pernah ditekan itu tentu saja sulit menerima hampir semua unsur kebudayaan Barat yang sama sekali berbeda dari tradisi yang selama ini dihayatinya. Ia tidak bisa memahami mengapa orang bule tidak mempunyai rasa malu dan jijik kalau menari dalam kamar yang sumpek penuh asap tembakau dan bau minuman keras, berpelukan erat dengan orang yang bukan suami atau istrinya di hadapan orang banyak, bergerak-gerak perlahan dalam suasana lampu yang remang-remang.
            Dalam bagian akhir sajak Afrika Yang Resah ini, Lawino berusaha untuk mengingatkan suaminya tentang keagungan tradisi bangsanya sendiri. Ia menginginkan lelaki itu kembali kepadanya, kepada rakyat dan adat-istiadatnya yang kaya. Dalam usahanya memanggil pulang suaminya yang ”tersesat” itu untuk kembali, Lawino dengan jelas menggambarkan berbagai segi adat-istiadat nenek-moyangnya yang perlu dihidupkan kembali.
            Dengan pandangan yang dimiliki oleh Lawino, Ocol kemudian mencerca Lawino dan mengusirnya. Dia menginginkan kehidupan yang sama sekali baru, yang didasarkan pada konsep-konsep kemasyarakatan Barat. Ia pun menghendaki dikuburkannya adat kuno dan tahayul yang masih ada dalam masyarakat. Bahkan ia memproklamirkan Afrika yang berbahasa Prancis dan Inggris.
            Dengan memahami isi yang terkandung dalam sajak ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, maka Aspek yang terdapat dalam pembahasan dalam karya tersebut, terutama Aspek Sosialnya.
Aspek sosial yang dimaksud adalah peristiwa yang menceritakan bahwa tokoh Lawino sangat menyesal dengan tindakan suaminya yang meninggalkan kebudayaan aslinya menuju, tetapi malah hidup dengan mengagungkan budaya Barat. Lawino juga termasuk istri yang tabah, saat Ocol meninggalkannya untuk menikah dengan Clementine. Meskipun marah, Lawino tetap tidak menunjukkan rasa marah terhadap Ocol. Dia merasa optimis untuk membawa suaminya kembali hidup dengan mengagungkan kebudayaan asli yang mereka miliki.
Walaupun pada akhirnya Lawino diusir oleh suaminya, namun usaha Lawino untuk membuat suaminya kembali dalam kehidupan yang semestinya patut diacungi jempol. Paling tidak, Lawino telah menjalani peran ganda. Pertama yaitu ingin meraih kembali suaminya yang telah direbut oleh perempuan lain, yang kedua yaitu semangatnya untuk menghidupkan kembali kebudayaan asli negaranya.
Pada analisis Afrika Yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek ini, penyair berusaha mengungkapkan persoalan-persoalan penting dalam negara berkembang yang baru saja lepas dari kekuasaan penjajahan Barat. Penyair berusaha mengajak para pembaca semua untuk melihat rangkaian persoalan yang kompleks dari berbagai sudut pandang yang baru; penyair menyadarkan kita bahwa setidaknya harus merenungkan kembali pilihan-pilihan yang telah kita jatuhkan selama ini. Berbagai masalah yang digambarkan dalam kedua sajaknya ini terasa tidak begitu asing bagi kita. Mungkin kita merasa bahwa masalah itu masih tetap masalah bagi kita sekarang.
            Dengan demikian, dunia rekaan yang diciptakan penyair Uganda ini memiliki nilai tambah bagi pembaca khususnya. Di samping menyodorkan pengalaman baru untuk kita hayati, penyair  juga mengingatkan kita akan berbagai masalah yang dapat melanda di suatu negara, khususnya negara yang sedang berkembang saat ini.

Rabu, 09 Februari 2011

Kenyataan hati

Cerita ini  aku tulis berdasarkan ini hati yang telah aku alami saat ini dan kemarin...

Terima kasih buat orang orang yang selalu membuat aku tersenyum bahagia,,,dan tak lupa aku ucapkan juga buat orang orang yang sudah membuatku menangis,,akan sakitnya hati ini.
Semua manusia sudah ada yang mengatur setiap kehidupannya. Tuhan memang Maha Adil. Aku sendiri sudah pernah mengalami beberapa kejadian yang merupakan sebuah klamufase kehidupanku saat ini. Sedih senang aq slalu merasa "Oh...inikah arti dari kehidupanku saat ini". Sempat aku selalu berfikir adakah orang yang tak pernah sedih di muka dunia ini????
Hanya Tuhanlah yang tahu akan semua kejadian ini. Aku hanya bisa berdoa dan bersyukur akan keadaan yang sudah Kau berikan kepadaku saat ini. Thank God..
Namun saat ini aku hanya bisa berharap agar aku tetap bisa menghirup udara alam ini sampai aku merasa puas untuk menikmati semua yang Kau berikan kepada aku. Berikanlah kesempatan kepada aku, untuk menyembuhkan luka lama ku yang semakin hari semakin buruk ini. Aku hanya minta, kebahagian yang sempat hilang mohon di kasihkan lagi ke aku.. aku ingin bahagia di detik detik kepergianku ini...
Semoga Kau tetap mendengarkanku....
maafkan diriku yang tidak bisa membuatmu bahagia...semoga kamu bisa menemukan kebahagianmu suatu saat di waktu yang tepat.
Terima Kasih Tuhan, hanya Engkaulah yang bisa membuat aku tersenyum, sampai aku bisa merasakan akan datang buat ku seseorang yang Kau anggap tepat bagi diri ku ini.
Thank God