Perempuan
muda itu bernama Firdaus, dia merupakan salah satu penghuni penjara di
Mesir. Ia di penjara karena membunuh seorang pria yang mau menjadikannya
seorang budaknya. Lelaki itu merupakan seorang penampung pekerja seks yang
terkenal di Mesir. Firdaus mengelak, tetapi lelaki itu tetap mengancamnya.
Ketika pihak penjara memberikan penawaran untuk mengajukan igrasi. Firdaus
tetap menolak. Dia tetap memilih untuk di hokum mati atas perbuatannya,
meskipun ia benar – benar merasa bahwa dirinya tidak bersalah. Firdaus tetap
menolak dan tetap menjalani hukuman tersebut dengan kepasrahan karena ia merasa
hidupnya sudah tidak berarti lagi. Sejak kecil Firdaus sudah mengalami
pelecehan seksual mulai dari temannya, pamannya, bahkan ayahnya sendiri dan
orang – orang yang disekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan asal mula
penderitaan Firdaus seumur hidupnya.
Perjalanan hidup Firdaus yang dialaminya dari hari ke hari menjadikan dia
menjadi seorang wanita yang tegar, kuat dan mandiri. Perjalanan hidup Firdaus
yang menjadi seorang pelacur yang sangat sukses dan mendapatkan bayaran yang
sangat tinggi. Dari situlah dia bisa mendapatkan materi yang di inginkan hanya
dengan mengerlingakan matanya pada setiap lelaki yang ia temui. Namun demikian,
hatinya tidak pernah merasa damai dan bahagia. Firdaus selalu merasa ada
perasaan perih di hatinya.
Salah satu pelanggannya pernah berkata pedas pada firdaus, hal itu malah
membuat sadar hati firdaus. Meskipun Firdaus membunuh untuk melindungi
dirinya sendiri, dan ia sadar bahwa ia harus menerima semua hukuman
walaupun itu sebuah hukuman mati.
Dalam novel ini, Firdaus benar – benar benci kepada semua lelaki karena ia
selalu mendapatkan penderitaan darinya. Bahkan dari orang terdekatnnya juga
seperti ayahnya, pamannya sendiri.
Kajian
Berdasarkan Aspek Feminisme
Feminisme merupakan sebuah hasrat dari feminis untuk mengaji karya sastra
penulis wanita di masa lampau dan menunjukkan citra wanita dalam karya – karya
penulis pria, yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang di tekan, di
salah tafsirkan dan di sepelekan. Adapun tujuan dari kajian feminisme ini yaitu
: di jadikannya sebagai wahana atau alat baru dalam mengakji dan mendekati
suatu teks dengan cara mengakui adanya penulis – penulis wanita yang
berpontensioanal. Selain itu juga
membantu kita ( pembaca ) untuk memahami, menafsirkan serta menilai cerita
penulis wanita.
Novel “ Perempuan di Titik Nol “ memiliki berbagai aspek feminisme dari sudut
pembelaan dan segi pemberontakan seorang wanita atas hak – hak pribadinya.
Dalam hal ini Firdaus menjadi tokoh sentralnya. Dia memperjuangkan nasibnya
agar dapat berdiri sejajar sama rata dengan kaum laki – laki atau bahkan di
atas mereka. Sering kali wanita lemah yang selalu dijadikan budak, bahkan
bualan dan alat pemuas seks yang ternyata dapat berlaku kejam terhadap laki –
laki. Hal ini di karenakan ia terdorong oleh berbagai penderitaan yang di
alaminya dan atas kekecewaan yang selama ini terus menderita hatinya, yang pada
puncaknya timbullah rasa ingin balas dendam atas semua kejahatan yang
ditimpakannya.
Dalam aspek feminisme latar belakang
agama juga menjadikan tokoh sentral adalah wanita. Di dalam novel ini
menceritakan Firdaus seorang wanita yang merupakan makhluk kotor, atau
penjelmaan dari iblis. Tokoh utama berusaha memperjuangkan kedudukannya, namun
terkadang jalan yang di tempuhnya menjadikannya sakit atas beban mental yang
dibawanya. Dengan menjadi seorang pelacur , Firdaus dapat mendapatkan apapun
yang di inginkannya dari para lelaki yang telah membayarnya.
Peristiwa pembunuhan yang di lakukukan Firdaus menyebabkannya masuk dalam
tahanan penjara, ia di tahan sebagai hukuman balasan atas tindakan criminal
yang dilakukannya. Tetapi di balik semua itu Firdaus tetap kuat dan mempunyai
keteguhan hati dan tidak menyurutkan keberaniannya dalam memegang prinsip
hidupnya.