LUXURIOUS

Selamat Datang...

Mari Kita saling berbagi, berpendapat, belajar, serta berdiskusi ria dengan Luxurious.

Are You Ready ???

Rabu, 06 April 2011

emosi sesaat

Jepara, 7 April 2011
Saat ku buka mata ini,, ku tahu apa yang bakal terjadi saat ku buka mataku. Sebuah perjalanan berat akan ada di depanku saat ini juga, ingin rasanya aq pergi tidur lagi dan memejamkan mataku terus tanpa harus mengintip walaupun itu sedikit saja. Rasa ego yang selama ini aq pendam terus saat ini hampir saja aq muntahkan... ahh,,,aq dah bosan, muak dengan kejadian ini!!! Hati dan perasaanku tak sejalan lagi. Aq ingin hidup normal tanpa ada sebuah klamufase tiap hari. Apalah arti dari sebuah tangisan???? saat ini tangisan tidaklah memperbaiki sebuah keadaan. Malah akan menjadi sebuah beban yang akan selalu aku pikul terus dalam perjalanan hidupku. Aku ingin lepas dari semua permasalahan ini. Aku benci semuanya... Muak dengan semuanya!!! ini hanyalah luapan emosi sesaatku..

Jumat, 18 Maret 2011

Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi

Perempuan muda itu bernama Firdaus, dia merupakan salah satu  penghuni penjara di Mesir. Ia di penjara karena membunuh seorang pria yang mau menjadikannya seorang budaknya. Lelaki itu merupakan seorang penampung pekerja seks yang terkenal di Mesir. Firdaus mengelak, tetapi lelaki itu tetap mengancamnya. Ketika pihak penjara memberikan penawaran untuk mengajukan igrasi. Firdaus tetap menolak. Dia tetap memilih untuk di hokum mati atas perbuatannya, meskipun ia benar – benar merasa bahwa dirinya tidak bersalah. Firdaus tetap menolak dan tetap menjalani hukuman tersebut dengan kepasrahan karena ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Sejak kecil Firdaus sudah mengalami pelecehan seksual mulai dari temannya, pamannya, bahkan ayahnya sendiri dan orang – orang yang disekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan asal mula penderitaan Firdaus seumur hidupnya.
            Perjalanan hidup Firdaus  yang dialaminya dari hari ke hari menjadikan dia menjadi seorang wanita yang tegar, kuat dan mandiri. Perjalanan hidup Firdaus yang menjadi seorang pelacur yang sangat sukses dan mendapatkan bayaran yang sangat tinggi. Dari situlah dia bisa mendapatkan materi yang di inginkan hanya dengan mengerlingakan matanya pada setiap lelaki yang ia temui. Namun demikian, hatinya tidak pernah merasa damai dan bahagia. Firdaus selalu merasa ada perasaan perih di hatinya.
            Salah satu pelanggannya pernah berkata pedas pada firdaus, hal itu malah membuat sadar hati firdaus. Meskipun Firdaus membunuh untuk melindungi dirinya  sendiri, dan ia sadar bahwa ia harus menerima semua hukuman walaupun itu sebuah hukuman mati.
            Dalam novel ini, Firdaus benar – benar benci kepada semua lelaki karena ia selalu mendapatkan penderitaan darinya. Bahkan dari orang terdekatnnya juga seperti ayahnya, pamannya sendiri.

 Kajian Berdasarkan Aspek Feminisme
            Feminisme merupakan sebuah hasrat dari feminis untuk mengaji karya sastra penulis wanita di masa lampau dan menunjukkan citra wanita dalam karya – karya penulis pria, yang menampilkan wanita sebagai  makhluk yang di tekan, di salah tafsirkan dan di sepelekan. Adapun tujuan dari kajian feminisme ini yaitu : di jadikannya sebagai wahana atau alat baru dalam mengakji dan mendekati suatu teks dengan cara mengakui adanya penulis – penulis wanita yang berpontensioanal. Selain itu juga membantu kita ( pembaca ) untuk memahami, menafsirkan serta menilai cerita penulis wanita.
           Novel “ Perempuan di Titik Nol “ memiliki berbagai aspek feminisme dari sudut pembelaan dan segi pemberontakan seorang wanita atas hak – hak pribadinya. Dalam hal ini Firdaus menjadi tokoh sentralnya. Dia memperjuangkan nasibnya agar dapat berdiri sejajar sama rata dengan kaum laki – laki atau bahkan di atas mereka. Sering kali wanita lemah yang selalu dijadikan budak, bahkan bualan dan alat pemuas seks yang ternyata dapat berlaku kejam terhadap laki – laki. Hal ini di karenakan ia terdorong oleh berbagai penderitaan yang di alaminya dan atas kekecewaan yang selama ini terus menderita hatinya, yang pada puncaknya timbullah rasa ingin balas dendam atas semua kejahatan yang ditimpakannya.
            Dalam aspek feminisme latar belakang agama juga menjadikan tokoh sentral adalah wanita. Di dalam novel ini menceritakan Firdaus seorang wanita yang merupakan makhluk kotor, atau penjelmaan dari iblis. Tokoh utama berusaha memperjuangkan kedudukannya, namun terkadang jalan yang di tempuhnya menjadikannya sakit atas beban mental yang dibawanya. Dengan menjadi seorang pelacur , Firdaus dapat mendapatkan apapun yang di inginkannya dari para lelaki yang telah membayarnya.
            Peristiwa pembunuhan yang di lakukukan Firdaus menyebabkannya masuk dalam tahanan penjara, ia di tahan sebagai hukuman balasan atas tindakan criminal yang dilakukannya. Tetapi di balik semua itu Firdaus tetap kuat dan mempunyai keteguhan hati dan tidak menyurutkan keberaniannya dalam memegang prinsip hidupnya.

ASPEK SOSIAL DALAM ”AFRIKA YANG RESAH (NYANYIAN LAWINO DAN NYANYIAN OCOL)” KARYA OKOT P’BITEK

Sastra yang baik selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan mayarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan kodisi yang berlaku dalam masyrakatnya.
Bangsa-bangsa yang sedang berkembang di dunia sedikit banyak berada dalam situasi yang sama, dan menghadapi tantangan yang juga diantaranya ada yang sama. Sebagian besar dari mereka adalah negara bekas jajahan kekuasaan asing. Masyarakat mereka juga berada di taraf transisi, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dengan segala masalah dan keperihannya. Di negeri yang seperti ini telah banyak nilai tradisional yang mengalami perubahan. Pembangunan ekonomi dan sosial sendiri telah mendorong berbagai perubahan di banyak bidang penghidupan dan nilai-nilai perorangan dan masyarakat.
            Di antara puluhan pengarang modern Afrika Hitam yang semakin dikenal luas, ada beberapa yang dengan sungguh-sungguh menciptakan citraan, kiasan, dan perlambangan yang berdasarkan tradisi Afrika. Salah seorang di antara yang hanya beberapa itu adalah Okot P’Bitek, penyair Uganda. Karya Okot bahkan telah memaksa para pengamat Barat untuk tidak membandingkannya dengan sastra Barat, tetapi dengan sastra lisan Acoli, salah satu kelompok etnis yang menghuni negeri itu. Karya Okot P’Bitek yang paling sering dibicarakan adalah ”Nyanyian Lawino”, yang kemudian ternyata tidak bisa dipisahkan dari karya lain yang mengikutinya, ”Nyanyian Ocol”. Dalah karya ini Okot P’Bitek berperan sebagai seorang penyair.
Okot p’Bitek dilahirkan di Gulu, Uganda bagian utara pada tahun 1931. Setelah menamatkan sekolah dasar dan menengah di Huda, ia kemudian memasuki sekolah Guru Negeri di Mbarara. Selepas dari sekolah itu, ia mengajarkan agama dan Bahasa Inggris di sebuah sekolah dekat Kota kelahiranya. Pada waktu itu orang tua Okot merupakan tokoh masyarakat dikalangan Protestan setempat. Pada masa Sekolah Guru, Okot menulis novel pertamanya yang berbahasa Acoli terbit, mengisahkan seorang pemuda yatim yang mengalami berbagai cobaan gara-gara berusaha mengumpulkan kekayaan untuk memenuhi mas kawin untuk calon istrinya. Waktu itu pula minat Okot pada musik dan politik tumbuh.
  
  Analisis Afrika Yang Resah ( Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek
            Dalam karya ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, tokoh Lawino adalah seorang wanita dusun yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah berubah menjadi seolah penduduk Barat dan menista bangsanya sendiri. Tokoh Lawino ini jelas bukan sekedar seorang wanita yang bodoh, ia adalah alat penyair untuk berkomentar terhadap tindak-tanduk penduduk di Uganda pada khususnya dan Afrika pada umumnya. Tokoh Ocol, suami Lawino, kawin lagi dengan wanita modern. Lelaki itu pembela agama Kristen yang gigih, ia  seorang politikus, seorang intelektual yang menginginkan modernisasi. Namun ia telah meninggalkan istrinya demi wanita lain. Lawino boleh dikatakan menyuarakan Afrika yang dusun, primitif, sederhana, ”hitam”, dan asli. Sudut pandang Lawino adalah Afrika. Ia memandang suami dan madunya sebagai korban pengaruh Barat. Ia marah karena merasa dilecehkan. Terlebih ia sangat marah terhadap Clementine, perempuan yang menggantikan kedudukannya sebagai istri Ocol. Akan tetapi bila di depan Ocol, Lawino tidak pernah menunjukkan sikap marahnya terhadap Clementine. Bahkan dia mengatakan tidak takut bersaing dengan madunya itu.
            Dengan membandingkan tarian Barat dengan tarian-tarian tradisional sukunya, Lawino mengungkapkan ketidakpahamannya mengapa orang Afrika bisa menyukai tarian Barat dan mengapa orang Afrika bisa mengambil kebudayaan Barat sebagai miliknya. Selanjutnya wanita desa itu dengan gigih membela adat-istiadat nenek moyangnya yang selama ini dianggap primitif oleh suaminya.
Dalam pembelaannya itu, Lawino senantiasa membandingkannya dengan kebudayaan Barat yang tak dipahaminya.Wanita dusun Afrika yang terbiasa dengan alam terbuka, gerak yang lepas, dan emosi yang tidak pernah ditekan itu tentu saja sulit menerima hampir semua unsur kebudayaan Barat yang sama sekali berbeda dari tradisi yang selama ini dihayatinya. Ia tidak bisa memahami mengapa orang bule tidak mempunyai rasa malu dan jijik kalau menari dalam kamar yang sumpek penuh asap tembakau dan bau minuman keras, berpelukan erat dengan orang yang bukan suami atau istrinya di hadapan orang banyak, bergerak-gerak perlahan dalam suasana lampu yang remang-remang.
            Dalam bagian akhir sajak Afrika Yang Resah ini, Lawino berusaha untuk mengingatkan suaminya tentang keagungan tradisi bangsanya sendiri. Ia menginginkan lelaki itu kembali kepadanya, kepada rakyat dan adat-istiadatnya yang kaya. Dalam usahanya memanggil pulang suaminya yang ”tersesat” itu untuk kembali, Lawino dengan jelas menggambarkan berbagai segi adat-istiadat nenek-moyangnya yang perlu dihidupkan kembali.
            Dengan pandangan yang dimiliki oleh Lawino, Ocol kemudian mencerca Lawino dan mengusirnya. Dia menginginkan kehidupan yang sama sekali baru, yang didasarkan pada konsep-konsep kemasyarakatan Barat. Ia pun menghendaki dikuburkannya adat kuno dan tahayul yang masih ada dalam masyarakat. Bahkan ia memproklamirkan Afrika yang berbahasa Prancis dan Inggris.
            Dengan memahami isi yang terkandung dalam sajak ”Afrika yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol)”, maka Aspek yang terdapat dalam pembahasan dalam karya tersebut, terutama Aspek Sosialnya.
Aspek sosial yang dimaksud adalah peristiwa yang menceritakan bahwa tokoh Lawino sangat menyesal dengan tindakan suaminya yang meninggalkan kebudayaan aslinya menuju, tetapi malah hidup dengan mengagungkan budaya Barat. Lawino juga termasuk istri yang tabah, saat Ocol meninggalkannya untuk menikah dengan Clementine. Meskipun marah, Lawino tetap tidak menunjukkan rasa marah terhadap Ocol. Dia merasa optimis untuk membawa suaminya kembali hidup dengan mengagungkan kebudayaan asli yang mereka miliki.
Walaupun pada akhirnya Lawino diusir oleh suaminya, namun usaha Lawino untuk membuat suaminya kembali dalam kehidupan yang semestinya patut diacungi jempol. Paling tidak, Lawino telah menjalani peran ganda. Pertama yaitu ingin meraih kembali suaminya yang telah direbut oleh perempuan lain, yang kedua yaitu semangatnya untuk menghidupkan kembali kebudayaan asli negaranya.
Pada analisis Afrika Yang Resah (Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol) karya Okot p’Bitek ini, penyair berusaha mengungkapkan persoalan-persoalan penting dalam negara berkembang yang baru saja lepas dari kekuasaan penjajahan Barat. Penyair berusaha mengajak para pembaca semua untuk melihat rangkaian persoalan yang kompleks dari berbagai sudut pandang yang baru; penyair menyadarkan kita bahwa setidaknya harus merenungkan kembali pilihan-pilihan yang telah kita jatuhkan selama ini. Berbagai masalah yang digambarkan dalam kedua sajaknya ini terasa tidak begitu asing bagi kita. Mungkin kita merasa bahwa masalah itu masih tetap masalah bagi kita sekarang.
            Dengan demikian, dunia rekaan yang diciptakan penyair Uganda ini memiliki nilai tambah bagi pembaca khususnya. Di samping menyodorkan pengalaman baru untuk kita hayati, penyair  juga mengingatkan kita akan berbagai masalah yang dapat melanda di suatu negara, khususnya negara yang sedang berkembang saat ini.

Rabu, 09 Februari 2011

Kenyataan hati

Cerita ini  aku tulis berdasarkan ini hati yang telah aku alami saat ini dan kemarin...

Terima kasih buat orang orang yang selalu membuat aku tersenyum bahagia,,,dan tak lupa aku ucapkan juga buat orang orang yang sudah membuatku menangis,,akan sakitnya hati ini.
Semua manusia sudah ada yang mengatur setiap kehidupannya. Tuhan memang Maha Adil. Aku sendiri sudah pernah mengalami beberapa kejadian yang merupakan sebuah klamufase kehidupanku saat ini. Sedih senang aq slalu merasa "Oh...inikah arti dari kehidupanku saat ini". Sempat aku selalu berfikir adakah orang yang tak pernah sedih di muka dunia ini????
Hanya Tuhanlah yang tahu akan semua kejadian ini. Aku hanya bisa berdoa dan bersyukur akan keadaan yang sudah Kau berikan kepadaku saat ini. Thank God..
Namun saat ini aku hanya bisa berharap agar aku tetap bisa menghirup udara alam ini sampai aku merasa puas untuk menikmati semua yang Kau berikan kepada aku. Berikanlah kesempatan kepada aku, untuk menyembuhkan luka lama ku yang semakin hari semakin buruk ini. Aku hanya minta, kebahagian yang sempat hilang mohon di kasihkan lagi ke aku.. aku ingin bahagia di detik detik kepergianku ini...
Semoga Kau tetap mendengarkanku....
maafkan diriku yang tidak bisa membuatmu bahagia...semoga kamu bisa menemukan kebahagianmu suatu saat di waktu yang tepat.
Terima Kasih Tuhan, hanya Engkaulah yang bisa membuat aku tersenyum, sampai aku bisa merasakan akan datang buat ku seseorang yang Kau anggap tepat bagi diri ku ini.
Thank God

Minggu, 28 November 2010

Dekonstruksi

Pada dasarnya dekonstruksi merupakan pengembangan dari post-strukturalisme. Bahkan Junus (dalam Endaswara 2008:174) menyebutkan dekonstruksi sebagai pasca-strukturalisme yang ekstrem. Sifat ekstrem yang dimaksud adalah pemaknaan karya satra dapat dimulai dari aspek apa saja bahkan dari aspek yang sangat kecil yang semula tidak banyak menarik perhatian orang. Setiap makna tidak lagi di ikat oleh struktur. Ia biasa berdiri sendiri dari sebuah jaringan unsur. Dari sini, maka unsur yang semula kurang atau tidak bermakna, sekarang menjadi bermakna dan berhasil.
Sebuah teks dalam pandangan dekontruksi akan selalu menghadirkan banyak makna, sehingga teks tersebut bisa sangat komplek. Jaringan-jaringan mana dalam teks juga bisa rumit yang memungkinkan pembaca berspekulasi makna. Makna tunggal, melainkan bersifat plural, makna bukan mati (tetap) melainkan hidup dan berkembang. Karenanya, deskontruksi membiarkan teks itu ambigo dan menantang segala kemungkinan (Endraswara 2008:170).
Dalam buku Nurgiyantoro (2002:59), Abrams berpendapat bahwa model pendekatan dekonstruksi ini dalam bidang kesastraan khususnya fiksi, dewasa ini terlihat banyak diminati orang sebagai salah satu model atau alternatif dalam kegiatan pengkajian kesastraan. Dekonstruksi pada hakikatnya merupakan suatu cara membaca sebuah teks yang menumbangkan anggapan (walau hal itu hanya secara implisit) bahwa sebuah teks itu memiliki landasan, dalam sistem bahasa yang berlaku, untuk menegaskan struktur, keutuhan, dan makna yang telah menentu.
Junus (dalam Endraswara 2008:170) menegaskan bahwa pada awalnya pencarian makna berdasarkan struktur tersebut. Kekuatan yang dimaksud adalah upaya secara deksonstruktif, dengan cara membreidel teks, mengobrak-abrik teks, dan lari dari struktur yang ada.
Dekonstruksi memang berpusar pada teks. Ia tak lepas dari teks, tetapi paham yang dipegang lebih luas. Teks tak dibatasi maknanya. Bahkan deskontruksi juga menolak struktur lama yang telah lazim. Menurut Endraswara (2008:169) bagi dekonstruksionis, menganggap bahwa “bahasa” teks bersifat logis dan konsisten. Misalnya, sebuah tema besar bahwa kejahatan akan terkalahkan dengan kebaikan oleh paham dekontrusi tak selalu dibenarkan. Di era sekarang, sastra boleh saja membalik tema besar itu. Karenanya, pemahaman teks tak selalu berurutan, melainkan boleh bolak-balik.
Konsep dekonstruksi mulai dikenal sejak Derrida membawakan makalahnya yang berjudul “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences”, di Universitas John Hopkins tahun 1966 ( Ratna 2009:222).
Paham dekonstruksi mula-mula dikembangkan oleh seorang filosof Perancis, Jacques Derrida, dan kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti Paul de man, J. Hills Miller, dan bahkan juga Levy-Strauss namun, sebenarnya tokoh-tokoh tersebut tidak mempunyai pandangan yang tunggal, juga dalam praktik mendekati atau mengkaji karya sastra, walaupun tentu saja juga mempunyai unsur-unsur kesamaan. Pendekatan dekonstruksi dapat diterapkan dalam bacaan karya sastra dan karya filsafat (Nurgiyantoro 2002:60).
Tokoh terpenting dalam dekonstruksi adalah Jacques Derrida, seorang Yahudi Aljazair yang kemudian menjadi ahli filsafat dan kritik sastra di Perancis. Di satu pihak, kritik sastra dan teori-teori postrukturalisme yang dikembangkangnya berangkat dari pemahamannya mengenai fenomenologi dan strukturalisme. Di pihak lain, postrukturalisme juga dikembangkan atas dasar pemahamannya mengenai hakikat subjektivitas dan objektivitas, di mana pada gilirannya unsur yang pertama akan mendominasi unsur yang kedua. Sebagai ciri khas postrukturalisme, dekonstruksi dikembangkan atas dasar pemahaman sepihak tradisi kritik, yaitu yang semata-mata memberikan perhatian terhadap ucapan (Ratna 2009:223-224).
Secara leksikal prefiks ‘de’ bearti penurunan, pengurangan, penolakan. Jadi, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara-cara pengurangan terhadap suatu intensitas konstruksi, yaitu gagasan, bangunan, dan susunan yang sudah baku, bahkan universal. Sarup (dalam Ratna 2009:224) dekonstruksi bertujuan untuk membongkar tradisi metafisika Barat seperti fenomenologi Husserlian, strukturalisme Saussuren, strukturalisme Perancis pada umumnya, psikoanalisis Freudian, dan psikoanalisis Lacanian. Tugas dekonstruksi, di satu pihak mengungkapkan hakikat problematika wacana-wacana yang dipusatkan, di pihak yang lain membongkar metafisika dengan mengubah batas-batasnya secara konseptual.
Pada dasarnya, dekonstruksi sudah dilakukan oleh Nietzsche (dalam Ratna 2009:224) dalam kaitannya dengan usaha-usaha untuk memberikan makna baru terhadap prinsip sebab-akibat. Prinsip sebab-akibat selalu memberikan perhatian terhadap sebab, sedangkan akibat sebagai gejala minor.
Menurut Endraswara (2008:170), kajian dekonstruksi sastra akan selalu tak percaya pada arti bahasa. Kalau struktural lebih mengandalkan bahasa teks, dimungkinan akan menemui jalan buntu, karena tak setiap bahasa dapat dikembalikan ke kenyataan. Itulah sebabnya, keluar dari struktur dan mencoba menghubungkan dengan teks-teks dan bahkan konteks lain, diharapkan lebih memadai. Inilah yang dilakukan oleh kaum dekonstruktif yang ingin selalu ada kebaruan pemahaman sastra. Dalam kaitan ini Roland Barthes (dalam Endaswara, 2008:170) memberikan tahapan penelitian dekonstruksi sebagai berikut:
1.            Mendasarkan semua unsur (struktur) yang terdapat pada teks dan meletakkan semua unsur tersebut pada kedudukan yang sama.
Setiap unsur di[ahami secara terpisah. Dengan demikian, tidak satu pun yang dianggap tidak penting atau tidak mempunyai peranan.
2.            Unsur-unsur yang telah dipahami dihubungkan dengan unsur lainya dalam upaya untuk mengetahui apakah unsur-unsur tersebut
merupakan satu jaringan, baik jaringan antar semua unsur (jaringan X) atau merupakan satu jaringan dengan unsur lain (jaringan X dan Y).
Berdasarkan tahapan tersebut, memang tidak tertutup kemungkinansebuah teks sastra dipahami berdasarkan teks lain. Teks sastra dipahami tidak hanya lewat struktur, melainkan melalui kode-kode lain di luar teks. Dalam kaitan ini, membaca karya sastra adalah kegiatan paradoksal. Maksudnya,pembaca boleh menciptatakan kembali dunia ciptaan, dunia rekaan, dan menjadikannya sesuatu yang akhirnya mudah dikenal. Hal yang aneh, menyimpang, memgejutkan dalam teks dinaturalisasikan dan dikembalikan ke dalam dunia yang mudah dikenali (Endaswara, 2008:170).
Pembacaan karya sastra, menurut paham dekonstruksi, tidak dimaksudkan untuk menegaskan makna sebagaimana halnya yang lazim dilakukan melainkan justru untuk menemukan makna kontradiktifnya, makna ironisnya. Pendekatan dekonstruksi bermaksud untuk melacak unsur-unsur aporia, yaitu yang berupa makna paradoksal, makna kontradiktif, makna ironi, dalam karya sastra yang dibaca. Unsur atau bentuk-bentuk dalam karya itu dicari dan dipahami justru dalam arti kebalikannya. Unsur-unsur yang tidak penting dilacak dan kemudian dipentingkan, diberi makna, peran, sehingga akan terlihat perannya dalam karya yang bersangkutan.
Cara pembacaan dekonstruksi, oleh Levy-Strauss dipandang sebagai sebuah pembacaan kembar atau double reading. Disatu pihak terdapat adanya makna (semu, maya, pura-pura) yang ditawarkan, dilain pihak dengan menerapkan prinsip dekonstruksi dapat dilacak adanya makna kontradiktif, makna ironi. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa tiap teks mengandung suatu aporia (sesuatu yang justru menumbangkan landasan dan koherensinya sendiri, menggugurkan makna yang pasti ke dalam ketidakmenentuan). Tiap teks, menurut Derrida, akan mendeskonstruksi dirinya sendiri, namun sekaligus juga didekonstruksi dan mendekonstruksi teks-teks yang lain. Dengan demikian, paham dekonstruksi tersebut dapat dikaitkan (atau: ada kaitannya) dengan paham intertekstual. Ada atau tidaknya kaitan antarteks, sebenarnya, pembacalah yang menentukannya. Paham dekonstruksi oleh karenanya, ada kaitannya dengan teori resepsi, khususnya teori resepsi yang dikembangkan Jausz. Dalam mendekonstruksi suatu teks, Jausz mempertimbangkan aspek historisnya, yaitu yang berupa tanggapan pembaca dari masa ke masa yang sering menunjukkan adanya perbedaan (Nurgiyantoro 2002:61).
Kristteva (Ratna 2009:223) menjelaskan bahwa dekonstruksi merupakan gabungan antara hakikat destruktif dan konstruktif. Yang dimaksudkan oleh para pemerhati tersebut bukan dalam pengertian yang negatif sebab tujuan utama tetep konstruktif. Dekonstruksi adalah cara membaca teks, sebagai strategi. Dekonstruksi tidak semata-mata ditunjukan pada tulisan, tetapi semua pernyataan kultural sebab keseluruhan pernyataan tersebut adalah teks yang dengan sendirinnya sudah mengandung nilai-nilai, prasyarat, ideologi, kebenaran, dan tujuan-tujuan tertentu.
Umar Junus memandang dekonstruksi sebagai perspektif baru dalam penelitian sastra. Peneliti tidak perlu merasa khawatir apakah hal-hal yang dikerjakan sama atau bahkan sama sekali bertentangan dengan orang lain. Dekonstruksi  justru memberikan dorongan untuk menemukan segala sesuatu yang selama ini tidak memperoleh perhatian. Dekonstruksi memungkinkan untuk melakukan penjelajahan intelektual dengan apa saja, tanpa harus teikat dengan apa saja, tanpa harus terikat dengan suatu aturan yang dianggap telah berlaku universal ( Ratna 2009:239). 
Jadi, pembacaan dekonstruksi tidak perlu menemukan makna terakhir. Yang diperlukan adalah pembongkaran secara terus-menerus, sebagai proses. Dekonstruksi dilakukan dengan cara memberikan perhatian terhadap gejala-gejala yang tersembunyi, sengaja disembunyikan, seperti tokoh pembantu (tokoh sampingan).

Rabu, 22 September 2010

Misteri Dibalik Video Mansturbasi-Konspirasi Lady Gaga “Alejandro”

Berdasarkan yang baru saja saya baca, nich ya....tadi blog-nya sapa ya???(Lupa.com) tentang artis fenomenal sensasional fantastis bombantis laalalady gaga "alejandro" ternyata menakutkan sekali. nich ya silahkan baca.....

Dalam video terbaru Gaga, ada sesuatu yang ingin dia coba sampaikan. Ada jalan cerita yang tersembunyi dibalik lagu yang ia nyanyikan. Kalau hanya sekedar dengar lagunya, mungkin tidak banyak yang kita tahu. Kita akan mulai analisa semuanya dari awal video lagu Alejandro – Lady Gaga hingga habis. Ini adalah jalan cerita berdasarkan Video Musik :
Video dimulai dimana sekumpulan laki-laki membuat beberapa formasi dan beberapa dari mereka kepalanya ditutup dengan sarung, mungkin mengisyaratkan bahwa itu adalah orang-orang tahanan dari berbagai tindak kejahatan. Salah satu laki-laki memegang benda berbentuk piramid sementara yang lain memegang hexagram seperti tahanan yang sedang berbaris.
“I know that we are young.
And I know you may love me.
But I just can’t be with you like this anymore, Alejandro.”
Setelah itu diteruskan dengan proses pemakaman. Perarakan membawa peti mati, dapat kita lihat Gaga mengenakan jubah hitam dan membawa Sacred Heart (Hati Kudus). Sacred Heart ini adalah pendarahan hati Tuhan untuk umat manusia (dalam kepercayaan kristiani). Kenapa kata Sacred Heart? Tengok gambar di bawah. Hati yang Lady Gaga pegang itu bukan hati biasa, tapi ada paku dan kawat yang di-lilit-lilit (simbolik) yang mirip dengan Sacred Heart of Jesus (merujuk kepada hati Yesus). Cari di google untuk membacanya lebih lanjut.
But I just can’t be with you like this anymore, Alejandro. Siapa Alejandro? Seorang lelaki yang dia tak bisa bersamanya? Kemudian dia dihianati oleh Roberto dan Fernando? (berdasarkan lirik). Kalau dengar lagu tanpa melihat video mungkin kita tidak akan mengerti. Gambaran video ini mengatakan bahwa Alejandro mungkin membawa suatu maksud yang lebih dalam. Jadi kalau bukan manusia. Apa dan siapa Alejandro?
Kemudian Gaga digambarkan kedudukannya sebagai orang yang berkuasa, memakai mahkota hitam sambil melihat tahanan melakukan persembahan untuknya. Gaga kemudian mengalihkan satu goggle. Sekaligus mempamerkan simbol illuminati – The All-Seeing Eye (bukan sekali tapi banyak kali) untuk mengungkapkan sifat sejati dari kekuatannya.
Setelah itu ada sebuah adegan simbolik lagi, seorang tentara dipaparkan dipasang ke string, seperti boneka. Yang jelas menunjukkan bahwa ada seseorang mengontrol dia. Atau istilahnya, dia adalah ‘mind-control slave’. Dia tidak bisa bergerak sesuai dengan keinginannya. Dan memegang senjata di kemaluannya. Wajah dia tampak kosong, tampak bingung seperti seorang hamba yang telah dikendalikan segala pergerakannya oleh Gaga si Illuminatist.
Dalam adegan selanjutnya, Gaga sedang berbaring, memakai red latex suit yang untuk biarawati (Kristiani) dan memegang kalung yang ada manik-maniknya. Waktu scene ini, Gaga memandang ke langit dan menyanyi part : “Stop, please, just let me go, Alejandro”. Ketika menyebut “Alejandro” Gaga mengangkat kedua tangannya kelangit. Jadi dalam part ini, tampak dengan jelas yang mengartikan bahwa Alejandro merujuk kepada Tuhan bukan manusia.
(Alejandro = Tuhan)
“She hides true love
En su bolsillo.
She’s got a halo ’round her finger,
Around you.”
Untuk lirik di atas, Halo bisa diartikan sebagai “suci” (holy). Around her finger (cincin kimpoi) merupakan penyatuan Gaga dengan Tuhan melalui agama, tapi dia sekarang malu dengan pernikahan ini karena suaminya telah mati. Jadi dia menyembunyikan cincin itu di bolsillo-nya, bolsillo dalam bahasa Spanyol maksudnya saku dan dia mulai menyalahkan Tuhan .
Sehabis lirik itu, konsep penolakkan (rejection) ditujukan kepada Tuhan dimulai. Karena Tuhan nampaknya tidak memenuhi kebutuhan rohani Gaga. Dia kemudian memutuskan untuk mencari Ketuhanan diri. Dengan memeluk satu spirituality yang baru. Dalam video ini lebih menunjukkan bahwa Gaga telah melakukan semacam pertukaran dari biarawati menjadi Paderi Luciferian (Setan).
Saya mengatakan bahwa itu adalah paderi Setan karena jubah yang dipakai Gaga di atas mengarah ke hal semacam itu. Ada banyak sekali simbol salib terbalik. Ini menunjukkan bahasa simbol yang membawa maksud yang jelas. Kita tahu salib adalah simbol keimanan bagi agama Kristen yang merupakan simbol pengorbanan Yesus & kebangkitan-Nya. Dalam agama Kristen, salib terbalik dikenali sebagai “Cross Of St.Peter”, untuk menghormati Simon Peter yang diminta untuk disalibkan terbalik karena dia merasa tidak sesuai untuk dihukum mati dengan cara yang sama seperti orang Kristen yang lain. Tapi dalam kalangan bukan orang Kristen, salib terbalik merupakan simbol penyelewengan dan sesuatu yang membawa kuasa negatif karena simbol terbalik selalu ditemui dalam ilmu hitam dan Satanisme yaitu pemujaan Setan.
Salib terbalik dan pentagram terbalik adalah simbol yang selalu digunakan untuk berhubungan dengan Setan, untuk memuja dan meminta pertolongan kepada Setan..
Contohnya seperti gambar di samping :
“Dalam simbolisme, sebuah gambar terbalik selalu menandakan suatu kekuatan sesat (…) Ilmu Hitam bukanlah inti dari seni, ini adalah penyalahgunaan seni. Oleh karena itu tidak memiliki simbol sendiri. Ini semata-mata mengambil gambar simbolis dari ilmu putih, dan dengan cara membalik dan membalik mereka, menandakan bahwa simbol itu adalah kidal.” - Manly P. Hall
Waktu lirik ini yang dinyanyikan, menggambarkan bahwa Gaga tidak mau diganggu oleh Tuhan.
Dont bother me, Dont bother me, Alejandro (merujuk kepada Tuhan)
Don’t call my name, Don’t call my name, Bye Fernando.
I’m not you’re babe, I’m not you’re babe, Alejandro
(Tuhan)
Salib terbalik (simbol Setan) diletakkan pada kedua bahu gaga, menjadi simbol tiang. Dilapis dan digabungkan dengan simbol terbalik di alat kelaminnya. Di angkat oleh sekumpulan lelaki dalam satu lingkaran. Mengangkat seperti mengagungkan Gaga, menyambut kedatangan Gaga ke dalam persekutuan mereka.
Setelah itu, Gaga memasukkan Kalung Rosario (Tasbih) kedalam mulutnya. Kalung Rosario adalah serangkaian manik-manik yang digunakan dalam tradisi Katolik untuk berdoa dan meditasi. Dalam Islam sendiri ada tasbih. Jadi dengan menelan tasbih, Gaga menggabungkan dalam dirinya simbol ketaatan dalam agama dan juga menggambarkan cara Gaga untuk mendapatkan Ketuhanan dengan caranya sendiri. Dia ingin mencapai Keilahian dengan caranya sendiri. Itu adalah prinsip aktif Lucifer. Jelas menunjukkan Gaga bukan menyembah Tuhan, tetapi Lucifer..
I’m not your babe I’m not your babe, Fernando.
Waktu menyebut perkataan “Fernando”, Gaga membuat simbol tangan seperti itu (yang jelas merujuk kepada Yesus). Itu adalah tanda berkat bagi ajaran Kristen terutama kepada mereka yang dianggap Suci. Ingat, Gaga itu suka membuat simbol dengan seenaknya dia. Sebab semua simbol membawa makna yang tersendiri, mari kita cari lagi apa makna dari dia.
Dapat kita lihat, dibelakang Gaga ada sebuah salib. Gaga sudah menghina ajaran Kristen cukup banyak dalam video ini. Gaga menyanyi sambil memandang ke atas dan kemudian dia mengulang-ulang lirik :
”Don’t call my name, Don’t call me Name Bye Fernando (Yesus)”
Dan di akhir video ditunjukkan, Gaga dilampirkan bersama strings. Pada mulanya Gaga yang mengontrol lelaki itu dan di akhir video ditunjukkan Gaga-lah yang ternyata di kontrol. Oleh siapa? Pikirkanlah siapa yang mengontrol Gaga ini. Siapa dalang dibalik semua ini? Siapa pemimpinnya? Anda mampu mencari jawabannya kan?
Sebagaimana disebutkan di atas, video Alejandro sangat kompleks, simbolik, dan multitafsir. Bisa jadi macam-macam, tergantung pada pengetahuan dan sudut pandangan masing-masing. Namun demikian, rasanya bagian-bagian video Alejandro ini jelas punya banyak teka-teki dibandingkan dengan video musik Telephone dan Bad Romance.
Jadi apa yang Gaga coba sampaikan dari videonya? Apakah dalam hal ini Gaga menolak iman Kristen dengan mengotori simbol dan menunjukkan bahwa ada satu kekuatan spiritual yang lain? Sesudah ini apa?